Kamis, 11 April 2013

makalah hadits



TATA PERGAULAN DENGAN LAWAN JENIS

I.                   PENDAHULUAN
Banyak perkataan dan fatwa seputar masalah (boleh tidaknya) laki-laki bergaul dengan perempuan (dalam satu tempat). Ada diantara ulama yang mewajibkan wanita untuk tidak keluar dari rumah kecuali ke kubur, bahkan ke masjid pun mereka dimakruhkan. Dan sebagian lagi ada yang mengharamkan karena takut dengan adanya fitnah dan kerusakan zaman. Ini mereka dasarkan pada perkataan Ummul Mu’minin Aisyah r.a. : “ seandainya Rosullullah SAW mengetahui apa yang diperbuat kaum wanita sepeninggal beliau, niscaya beliau melarangnya ke masjid.” Tetapi dengan berkembangnya zaman, para ustadz pun lebih lunak karena wanita juga perlu keluar rumah ke tengah-tengah masyarakat untuk belajar, bekerja, dan sudah tentu wanita akan bergaul dengan laki-laki, yang bisa jadi merupakan teman sekolah, guru, dokter, staf, dll. Sekarang, pertanyaannya apakah setiap pergaulan antara laki-laki dengan perempuan itu terlarang? Apakah mungkin wanita akan hidup tanpa laki-laki? Ataukah wanita harus dikurung dalam sangkar (rumah) selama masa hidupnya?
Pada zaman Rosulullah SAW kaum wanita sudah biasa menghadiri shalat berjamaah dan shalat jum’at. Beliau menganjurkan wanita untuk mengambil tempat khusus (shaf) belakang sesudah laki-laki. Mengapa? Karena dengan paling belakang, mereka telah terpelihara dari kemungkinan melihat aurat laki-laki. Karena pada zaman itu kebanyakan lelaki belum memakai celana. [1]
Dan begitulah yang dapat kita lihat dari riwayat hidup Rosulullah SAW, bahkan Nabi dan Rosul Allah senantiasa bergaul dan bergumul secara integral dengan orang di masyarakat dan cara inilah yang ditempuh para ulama’ dan pewarisnya.[2]
Dan disini akan dibahas tata pergaulan antara laki-laki dengan perempuan yang belum menikah, apabila dilihat dari reportase hadist.
II.                RUMUSAN MASALAH
1.      Dagaiman Definisi Pergaulan ?
2.      Bagaimana Cara Bergaul Yang Baik ?
3.      Tata Pergaulan Dengan Lawan Jenis Dilihat Dari Reportase Hadist?

III.             PEMBAHASAN
TATA PERGAULAN DENGAN LAWAN JENIS

1.      Definisi Pergaulan
Pergaulan atau dalam bahasa arabnya “ikhtilat” yang berarti pergaulan atau percampuran antara laki-laki dan perempuan. Dan hal ini memberi konotasi yang kurang baik dan tidak sesuai dengan islam. Istilah yang tepat ialah liga’ (pertemuan) atau musyarakah (penyertaan) antara laki-laki dan perempuan. Pergaulan sepatutnya diartikan sebagai batas pertemuan atau penyertaan antara lelaki dan wanita. Terdapat tiga kategori pergaulan yang dihadapi umat islam :
-          Pergaulan aliran barat yang identik antara laki-laki dan perempuan bercampur gaul tanpa ada batasan tertentu.
-          Pergaulan aliran ketimuran yang dicanang oleh islam, dan didalamnya mengatur batas pergaulan antara wanita dan laki-laki
-          Pergaulan aliran kujumudan, dimana banyak masyarakat islam abad ini, wanitanya terpenjara dan hak-hak mereka dihilangkan.

Dan ketiga aliran ini tentu mempunyai kelemahan ataupun kekurangan bagi umat manusia khususnya bagi umat muslim. Dan sebenarnya dalam islam tidak ada istilah “pergaulan bebas” karena secara fitrah manusia memiliki keharusan untuk bergaul dengan interaksi social yang merupakan sunnah social dari kehidupan. Namun setelah masuknya budaya asing ke dalam pergaulan masyarakat muslim yang dibentuk kecenderungan material, sehingga menimbulkan kesimpulan bahwa hidup dan lahir di bumi orientasinya hanya ke hawa nafsu, maka dinamailah pergaulan bebas. Bebas dari tuntunan wahyu, moral, dan fitrah sebagai manusia di dunia.[3]
2.      Cara Bergaul Yang Baik
Pergaulan yang baik adalah melaksanakan pergaulan menurut norma-norma kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan hukum syara’, serta memenuhi segala hak yang berhak mendapatkannya masing-masing menurut kadarnya. Dan islam menyeru dan mengajak kaum muslimin melakukan pergaulan diantara kaum muslimin, baik bersifat pribadi maupun kesatuan.
      Dan islam sendiri adalah agama yang dilandasi persatuan dan kasih saying. Kecenderungan untuk saling mengenal diantara sesama manusia dalam hidup dan kehidupannya, dan hal ini adalah ajaran islam yang sanagt ditekankan.
Rosulullah SAW bersabda :
ا لمؤ من ا لذ ى يخا لط ا لنا س و يصبر على ا ذ ا هم خير من ا لمؤ من ا لذ ى لا يخا لط ا لنا س م لا يصبر على ا ذ ا هم  (رواه ا لتر مذ ى)
Artinya : “ orang mu’min yang bergaul dengan orang-orang dan tahan uji atas segala gangguan mereka, lebih baik daripada orang mu’min yang tidak bergaul dengan orang-orang  dan tidak tahan uji atas gangguan mereka.[4] (H.R. Turmudzi)
Cara bergaul (lawan jenis) yang baik antara lain :
-          Laki-laki tidak boleh berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Ketika mereka berada di tempat yang sepi, yang semula hanya berpandangan, berpegangan, dan menjurus kea rah perzinaan
-          Laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim tidak boleh bersentuhan secara fisik.karena hal tersebut dilarang dalam islam.
-          Katika bertemu saling mengucapkan salam
-          Meminta izin dalam meminjam atau menggunakan barang dari teman kita
-          Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda
-          Bagi perempuan, menutup aurat. Dan bagi laki-laki menggunakan pakaian yang sopan pada saat bertemu. Agar menghindari perbuatan zina.
-          Saling bersikap santun dan saling menghormati antara hak dan kewajiban masing-masing
-          Tidak saling menghina
-          Mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat
-          Selalu mengajak untuk berbuat kebaikan

3.      Tata Pergaulan Dengan Lawan Jenis Dilihat Dari Reportase Hadist
a.      Haram duduk berdua (berkhilwat) dengan perempuan bukan muhram
Uqbah Ibn Amir r.a. menerangkan :
أَنَّ رَسُولُ اللهِ عليه وسلّم قَالَ: إِيَّاكُمْ وَالدُّخوْلَ عَلىَ النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: يارسُولَ اللهِ ! أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟  قال:
الْحَمْوُالْمَوْتُ
bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : janganlah kamu masuk ke kamar-kamar perempuan. Seorang laki-laki Anshar berkata : Ya Rasulullah terangkan padaku bagaimana hukum masuk kamar ipar perempuan?. Nabi menjawab : ipar itu adalah kematian(kebinasaan).” (HR al bukhari 67:111:muslim 39:8 : al lu’lu-u wal marjan 3:69-70)
Nabi tidak membenarkan kita masuk ke kamar-kamar perempuan(bagi laki-laki), maka hal ini memberi pengertian bahwa kita dilarang duduk-duduk berdua-duaan saja dalam sebuah bilik dengan seorang perempuan tanpa mahramnya.
Ahli hadist belum mengetahui siapa orang Anshar yang bertanya kepada Rasul tentang hukum kerabat suami selain ayah dan anaknya masuk ke tempat istri suami. Seperti : saudaranya, anak saudaranya, dan kerabat yang lain yang boleh mengawini istrinya bila diceraikan atau meninggal.[5]
Dan Rasul menerangkan bahwa kerabat suami yang menjumpai istri sama halnya dengan menjumpai kematian, karena menyendiri dalam kamar memudahkan timbulnya nafsu jahat yang membawanya pada kemungkaran Allah, dan menyebabkan suami akan menceraikan istrinya, dan ditakutkan akan terjadi kejahatan antar saudara dan perpecahan antar sauadara.
Dalam al-kahfi, Imam As Shidiq a.s. diriwayatkan berkata “ waspadalah hawa nafsumu sebagaimana engkau mewaspadai musuhmu, sebab tidak ada musuh yang lebih berbahaya bagi manusia selain ketundukan pada hawa nafsu dan perkataan lidahnya.”[6]
b.      Haram melihat perempuan yang bukan mahramnya
عَنْ ابى هريرة رضيى اللهُ عنه النبيّ ص م قال،كُتِبَ عَلَى ابْنِ أدَمَ نَصِيْبَهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكُ لَامَحَالَةّ، الْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظْر ولأدنان زنا هما الاستماع واللسان زناه الكلام ، واليد زنا ها البطشى ، والرجل زنا ها الخطى واقلب يهوى ويتمنى ويصدق ذلك لفرج اويكذبه. (متفق عليه وهذا لفظ مسلم ورواايه البخارمحصرة)
Dari abu hurairah r.a. Nabi Muhammad SAW bersabda : “ telah ditentukan bagi anak adam (manusia) bagian zinanya. Dimana ia pasti mengerjakannya. Zina kedua mata adalah melihat, zina kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah memukul, dan zina berjalan serta zina hati adalah nafsu dan berangan-angan yang semuanya dibuktikan oleh kemaluan.” (HR. Bukhari Muslim)[7]

c.       Boleh memboncengkan perempuan yang bukan mahram, apabila keletihan di jalan
تَزَوَّجَنِي الزُّبَيْرُوَمَالَهُ فِى الاَرْضِ مِنْ مَالٍ وَلاَ مَمْلُوْكٍ وَلاَ شَيئٍ غَيْرِنَا ضِحٍ وَغَيْرِفَرَسِهِ، فَكُنْتُ أَعْلِفَ فَرَسَهُ، وَسْتَقِى المَاءَ َوَأَخْرِزُغَربَهُ، وَأَعْجِنُ، وَلَمْ أَكُنْ أُحْسِنُ أَجْبِزُ وَكَانَ يَحْبِزُجَارَاتٌ لِى مِنَ لأنْصَارِوَكُنَّ نِسْوَةَ صِدْقٍ، وَكُنْتُ أنْقُلُ النَّوَى مِنْ أرْضِ لزُّبَيْرِ الّتِى أقْطَعَهُ رَسُوْلُ اللهِ ؤ عَلَى رَأْسِى وَهىَ مِنِّى عَلَى ثُلثَى فَرْسَخٍ. فَجِئْتُ يَوْماً وَالنَوَى عَلَى  رَأْسِي، فَلَقِيْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم، وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنَ الاَنْصَارِ فَدَعَانِى، ثُمَّ قَالَ : (إخٌ إخٌ) لِيَحْمِلَنِى خَلْفَهُ، فَاسْتَحْيَيْتُ أنْ أسِيْرَ مع الرِّجَالِ، وَذَكَرْتُ الزُّبَيْرَ وَغَيْرَتَهُ، وَكان أغْيَرُ النًّاسِ ، فَاَعْرَفَ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم اَنِّى أَسْتَحْيَيْتُ، فَمَضَى، فَجِئْتُ الزّبيْرَ، فَقُلْتُ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم  عَلَى رَأْسِى النَوَى ، وَمَعَهُ نَفَرٌ مِنْ أصْحَابِه،فَأ ناخَ لِأَرْكَبَ فَاسْتَحْيَيْتُ منهُ، وَعَرَفْتُ غَيْرَتَكَ. فَقُالَ: واللهِ ! لَحَمْلُكِ لنَوى كَانَ أشَدَّعلى رَكَوبك معه. قالت: حّتَّى اُ رْسِلَ الى ابوبكرٍ، بعد ذلك بِخَادَم تَكْفِنِى سِيَا سَةً الفُرَسِ فكأنَّمَا أعتَقَنِى.
azzubair mengawini aku dan ia tidak mempunyai harta di muka bumi ini. Tidak mempunyai budak dan tidak mempunyai apa-apa selain seekor unta yang dipergunakan untuk mengangkut air dan selain kudanya. Aku selalu memberi makan kudanya, menimba air, membetulkan timbanya dan merema tepung. Sedang aku tidak pandai membuat roti. Tetanggaku dari golongan Anshar membuat roti untukku. Mereka adalah perempuan yang benar dan aku mengangkut dengan kepala aku antah-antah biji kurma dari kebun Azzubair dan diberikan Rasulullah kepadanya. Tanah itu jaraknya dari rumahku kira-kira 2.3 farsah (1.2 mil). Pada suatu hari aku datang sedang biji anak kurma diatas kepalaku. Lalu aku menjumpai Rasulullah bersamanya ada beberapa orang Anshar. Maka Rasulullah memanggil akau dan berkata : ikh, ikh. Beliau menidurkan untanya untuk dapat membawaku dibelakangnya. Aku merasa malu berjalan bersama-sama orang laki-laki. Dan aku ingat kecemburuan Azzubair. Dia orang yang paling pecemburu. Rasul menjumpai aku sedang kurma ada di atas kepala ku dan bersama-sama Nabi ada beberapa sahabatlalu nabi menidurkan untanya supaya aku menungganginya, tetapi aku malu terhadap nabi dan aku mengetahui kecemburuan anda. Maka Azzubair berkata : demi Allah aku memikul biji kurma adalah lebih keras tekanannya atas diriku daripada engkau menunggangi kuda bersamanya. Asma berkata : kemudian Abu bakar mengirim kepadaku seorang pelayan yang menggantiku dalam pemeliharaan kuda itu. Karenanya seolah-olah Abu bakar telah memerdekakan aku “ (Al Bukhari 67:107. Muslim 39:14. Al lu’lu u-wal marjan 3:73-74).

Menurut hadist ini ada kerjasama antara suami dan istri dalam membina rumah tangga. Dan hadist ini menyatakan pula kebolehan kepada Negara memberikan tanah Negara kepada sebagian rakyatnya. Dan tanah itu tidak dapat dimiliki oleh seseorang. Kalau tidak diberikan oleh kepala Negara.
Hadist ini juga menjelaskan kebolehan memboncengkan seorang perempuan yang telah kepayahan di jalan. Di samping itu menyatakan pula tentang kerendahan hati nabi terhadap umatnya. Beliau tidak keberatan membonceng Asma’.
Kebolehan untuk membonceng perempuan yang bukan mahramnya adalah ketika kita menjumpai seseorang di suatu jalan, sedang ia tidak sanggup berjalan lagi khususnya apabila kita bersama-sama dengan orang lain. Tetapi ada sumber lain yang mengatakan bahwa asma’ wanita yang dibonceng Nabi adalah anak dari Abu bakar, saudara dari Aisyah dan istri dari Azzubair. Maka masih dalam keluarga Nabi.
d.      Berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim
Aisyah mengatakan :
فَقَبَضَتِ آ مْرَ أَ ةٌ يَدَ هَا

“ seorang wanita menahan tangannya “
Al-Hafizh (Ibnu Hajar) berkata : “ untuk yang pertama itu dapat diberi jawaban bahwa mengulurkan tangan dari balik hijab mengisyaratkan telah terjadinya bai’at meskipun tidak sampai berjabat tangan ……. Adapun untuk yang kedua yang dimaksud dengan menggenggam tangan ialah menariknya sebelum bersentuhan.”
Abu Daud meriwayatkan bahwa dalam al-Marasil dari asy-sya’bi bahwa nabi Muhammad SAW ketika membai’at kaum wanita beliau membawa kain selimut bergaris dari Qatar lalu meletakkan di atas tangan beliau, seraya berkata :
لَا اُ صَا فِحُ ا لنِّسَا ءَ
“ aku tidak berjabat tangan dengan wanita “
e.       Wanita menjenguk laki-laki yang sakit
Tidak ada halangan bagi wanita yang ingin menjenguk laki-laki yang sedang sakit, asalkan dia mematuhi aturan syara’ dan adab-adab yang harus dipelihara. Misalnya : tidak berduaan saja, tidak membuka aurat, tidak memakai wangi-wangian yang berlebihan, dan tidak berbicara dengan nada yang berbau rangsangan.
Dari Abu Hurairah r.a. Nabi Muhammad SAW bersabda :
عُوْ دُ و ا اْ لمَرْ ضى وَ اَ تْبِعُوْ ا اْ لجَنَا ئِزُ تُذَ كِّرُ كُمُ اْ لا خِرَ ةَ
“jenguklah orang-orang sakit, dan antarkanlah janazah karena hal itu akan mengingatkanmu kepada akhirat “[8]
f.        Bepergian dengan bukan mukrim
Berpergian dengan lelaki yang bukan mahram seperti camping, study tour, atau melakukan riset pada prinsipnya mubah (boleh). Karena yang dilarang adalah pergaulan yang pada ujung hasilnya adalah perbuatan zina. Karena pada zaman yang modern ini akan sering dijumpai wanita ke luar rumah dalam jarak yang jauh tanpa ditemani suaminya. Dengan catatan sudah mengantongi izin dari sang suami secara suka rela tanpa ada paksaan. Ini sesuai sabda Nabi Muhammad SAW “ suatu ketika akan ada seorang wanita berpergian sendirian dari Irak menuju Ka’bah, tidak takut kepada siapa atau apa pun kecuali Allah[9]

IV.             KESIMPULAN
Pergaulan diartikan sebagai batas pertemuan atau penyertaan antara lelaki dan wanita. Dalam bergaul memang harus ada batasan-batasannya, dan kita sebagai umat muslim harus mengetahui beberapa tata cara dalam bergaul dengan lawan jenis. Agar tercapai sebuah tata pergaulan yang sesuai aturan islam. Dan kita pun bisa selamat dunia dan akhirat karena bergaul sesuai dengan ajaran islam.
Dalam makalah ini dijelaskan beberapa tata pergaulan dengan lawan jenis yang dilihat dari redaksi hadist, seperti : Haram duduk berdua (berkhilwat) dengan perempuan bukan muhram, Haram melihat perempuan yang bukan mahramnya, Boleh memboncengkan perempuan yang bukan mahram, apabila keletihan di jalan, Berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, Wanita menjenguk laki-laki yang sakit, dan  bepergian dengan bukan mukrim.

V.                PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis buat. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya. Dan akhirnya penulis meminta maaf apabila terdapat banyak kesalahan, baik dalam sistematika penulisan, isi dari pembahasan maupun dalam hal penyampaian materi. Dan semoga makalah ini dapat memberikan makalah khususnya untuk penulis dan umumnya untuk para pembaca dalam kehidupan ini. Amin





DAFTAR PUSTAKA
Qardhawi, Yusuf. Fatwa-fatwa kontemporer jilid 2. Jakarta : gema insane press. 1995.
Husaini A, Majid Hasyim. Riadhus Shalihin. Surabaya : OT Bina Ilmu. 1993.
Rifa’I, Moh. akhlaq seorang muslim. Semarang : wicaksana . 1993.
hasby ash shidqi, Teuku Muhammad. Mutiara hadist 6. Semarang : PT Pustaka rizki putra. 2003.
Khomeni, Imam. 40 hadist telaah atas hadist-hadist mistis dan akhlak. Bandung : PT Mizan pustaka. 2004.
nawawy, Imam. Riadhus Sholihin imam nawawy. Jakarta : Pustaka Armani. 1999.




[1] Yusuf qardhawi. Fatwa-fatwa kontemporer jilid 2. Jakarta : gema insane press. 1995. Hal. 381-384
[2] Husaini A, Majid Hasyim. Riadhus Shalihin. Surabaya : OT Bina Ilmu. 1993. Hal. 412
[4] Moh. Rifa’i. akhlaq seorang muslim. Semarang : wicaksana . 1993. Hal. 383-384
[5] Teuku Muhammad hasby ash shidqi. Mutiara hadist 6. Semarang : PT Pustaka rizki putra. 2003. Hlm. 365
[6] Imam khomeni. 40 hadist telaah atas hadist-hadist mistis dan akhlak. Bandung : PT Mizan pustaka. 2004. Hal. 196
[7] Imam nawawy. Riadhus Sholihin imam nawawy. Jakarta : Pustaka Armani. 1999.hlm 498
[8] Opcit. Moh. Rifa’i. akhlaq seorang muslim. Hal. 397-410
[9] M. Quraish Shihab. Fatwa-fatwaseputar ibadah dan muamalah. Bandung : mizan.1999. hlm. 39

Rabu, 10 April 2013

KUMPULAN MAKALAH



MENGENAL FILSAFAT MATERIALISME DAN EKSISTENSIALISME

I.                   PENDAHULUAN
Ada orang yang berkata bahwa, orang harus berfilsafat untuk mengatahui apa yang disebut filsafat itu. Mungkin ini benar, hanya kesulitannya ialah ketika orang tersebut sudah merasa berfilsafat dan sudah berkeyakinan bahwa dirinya tahu akan filsafat, namun kenyataannya ia belum berfilsafat dan sama sekali belum tahu akan filsafat. Dan inilah salah satu pentingnya mempelajari ilmu filsafat.
Filsafat dalam bahasa Yunani dikenal dengan filosophia. Filos yang berarti (cinta), cinta yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan karena ingin lalu berusaha untuk mencapai yang diingini itu. Dan Sophia yang berarti (kebijaksanaan). Yang berarti mengerti dengan mendalam. Jadi menurut namanya : ingin mengerti dengan mendalam atau cinta terhadap kebijaksanaan.[1]
Menurut Plato (427SM-347SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli). Menurut Aristoteles (384SM-322SM) filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, estetika. (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda). Sedangkan menurut pendapat dari Indonesia, seperti : Prof. Dr. Fuad Hasan, filsafat adalah : suatu ikhtiar untuk berfikir radikal mulai suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan menurut Drs. H. Hasbullah Bakry, Filsafat adalah : ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan oleh akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu setelah memperoleh pengetahuan itu. [2] dan dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah yang belum bisa dijawab oleh ilmu yang lain karena masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan tersebut.
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai aliran-aliran yang ada dalam ilmu filsafat tersebut. Diantaranya : aliran materialism dan eksistensialisme beserta tokoh-tokoh dalam aliran tersebut.

II.                RUMUSAN MASALAH       
1.      Apa Pengertian Dari Filsafat Materialisme ?
2.       Siapa Saja Tokoh-Tokoh  Dalam Aliran Materialisme ?
3.       Apa Macam-Macam Aliran Dalam Materialisme ?
4.       Apa Pengertian Filsafat Eksistensialisme ?
5.       Siapa Tokoh-Tokoh Dalam Aliran Eksistensialisme ?

III.                  PEMBAHASAN
1.      Pengertian Filsafat Materialisme
Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Kata materialism terdiri dari kata materi dan isme. Materi dapat difahami sebagai bahan benda segala sesuatu yang tampak. Materialism adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam indra. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialism.[3]
Kaum materialis pada masa lampau memandang alam semesta tersusun dari zat-zat renik yang terdalam tersebut dan memandang alam semesta dapat diterangkan berdasarkan hukum-hukum dinamika. Dan dewasa ini kaum materialis dengan satu cara (yang kiranya sudah disesuaikan dengan penemuan baru ilmu positif) mengatakan bahwa “ kenyataan bersifat material” dipandang berarti segala sesuatu yang hendak dikatakan nyata 1. Dalam babak terakhir berasal dari materi dan 2. Berasal dari gejala-gejala yang bersangkutan dengan materi.[4]

2.      Tokoh-Tokoh dalam Aliran Materialisme
a. Karl Marx (1811-1883)
Marx lahir di Trier Jerman. Ayahnya merupakan seorang Yahudi dan pengacara cukup berada, dan ia masuk prostestan ketika berusia enam tahun. Setelah dewasa Marx melanjutkan studinya ke Universitas di Bonn. Ia mendapat gelar doctor dengan desertasinya tentang filsafat Epicurus dan Demokritus. Aliran ini  disebut pula marxisme. Menurut Marx tindakan politik dan social dipadukan menjadi keseluruhan dengan filsafat dan ilmu. Buku-bukunya yang amat menyatakan dasar pemikirannya. Yang ditulis dengan bekerja sama dengan Engels, seperti : die heilige familie (1845), comunistich manifesh (1848), das capital (1867) , national ekonomie und philosophie (1844).[5]

b. Thomas Hobbes (1588-1679 M)
menurut Thomas Hobbes materialism menyangkal adanya jiwa atau roh karena keduanya hanyalah pancaran dari materi. Dapat dikatakan juga bahwa materialisme menyangkal adanya ruang mutlak lepas dari barang-barang material.
c. Hornby (1974)
menurut Hornby materialisme adalah theory, belief, that only material thing exist (teori atau kepercayaan bahwa yang ada hanyalah benda-benda material saja)[6]
d. Ludwig buechner (1824-1899), Jakob Moleschott (1822-1893),  Ernst Haeckel (1834-1919), Friedrich engels (1820-1895) yang semuanya menyerba bahankan segala sesuatu. [7]
3.      Aliran-Aliran di dalam Filsafat Materialisme
a.       Materialisme Mekanik
Materialisme Mekanik adalah aliran filsafat yang pandangannya materialis sedangkan metodenya mekanis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan gerak dan berubah. Geraknya itu adalah gerakan yang mekanis artinya gerak yang tetap selamanya atas gerak yang berulang-ulang.
Materialisme mekanik mempunyai daya tarik yang sangat besar oleh karena kesadarannya. Dengan menerima pendekatan itu, seseorang merasa telah dapat `membebaskan diri dari problema-problema yang membingungkan selama berabad-abad. Dalam manusia adalah badannya, dan ukuran kebenaran atau realitas adalah sentuhan penglihatan dan suara yakni alat-alat verifikasi eksperimental. Dalam suatu filsafat yang menganggap bahwa hanya benda-benda itulah yang riil tentu mempunyai daya tarik bagi banyak orang.
b.      Materialisme metafisik
Adalah materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap atau statis selamanya. Seandainya materi itu berubah maka perubahan tersebut terjadi karena factor luar atau kekuatan dari luar.
c.       materialisme dialektis
adalah filsafat yang bersandar pada benda dan metodenya dialektis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu mempunyai keterhubungan satu dengan yang lain.materialisme dialektis sangat menghormati sains dan menyatakan bahwa persepsi indrawi sains memberi pengetahuan yang nyata namun melakukan pendekatan dengan politik dan sejarah dan bukan dari segi sains. Dialektik sendiri adalah suatu fakta empiris; kita mengetahuinya dari penyelidikan tentang alam, dikuatkan oleh pengetahuan lebih lanjut tentang hubungan sebab musabab yang dibawakan oleh ahli sejarah dan sains.
Dalam materialisme dialektik manusia dapat mempengaruhi kehidupannya sendiri, dan juga mempengaruhi sejarah sampai batas tertentu. Kehidupan berasal dari benda-benda in-organik, dan manusia adalah suatu bagian dari alam, oleh karena itu manusia dan binatang berbeda hanya dalam tingkat dan tidak dalam esensinya.[8]

4.      Pengertia Eksistensialisme
Definisi eksistensialisme tidak mudah dirumuskan, bahkan kaum eksistensialis sendiri tidak sepakat mengenai rumusan apa sebenarnya eksistensialisme itu. Sekalipun demikian, ada sesuatu yang disepakati, baik eksistensi maupun filsafat eksistensialisme sama-sama menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral. Eksistensialisme berasal dari kata eksistensi (existency) berarti keluar dan sintere yang berarti berdiri. Jadi eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Artinya dengan keluar dari dirinya sendiri manusia sadar tentang dirinya sendiri, ia berdiri sebagai aku atau pribadi. [9]
.  Berdasarkan etimologis, eksistensialisme berarti berdiri atau berada di (ke) luar. eks´ berarti ke (di) luar dan (s)istens berarti menempatkan atau berdiri. (Sutardjo, 2006, hal 80).
Menurut Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi. dalam bukunya Pengantar Filsafat(2006), eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala hal berpangkal pada eksistensinya. Menurut beliau lebih lanjut, eksistensialisme merupakan cara manusia berada atau lebih tepat mengada dan eksistensi ini hanya berlaku pada manusia.
Menurut Prof. Dr. Ahmad Tafsir dalam bukunya Filsafat Umum(2000), eksistensialisme merupakan aliran dalam filsafat yang menunjukkan cara beradanya manusia di bumi yang lahir sebagai reaksi terhadap materialisme, idealisme, dan situasi dunia pada umumnya yang tidak menentu.[10]
Jadi eksistensialisme adalah salah satu aliran filsafat tentang keberadaan manusia itu di dunia yang dihadirkan melalui kebebasan manusia yang bertanggung jawab terhadap kemauan individu yang bebas tanpa memikirkan mana yang benar dan mana yang salah secara mendalam.


5.      Tokoh-Tokoh dalam Aliran Eksistensialisme
a.       Soren Kierkegaard (1813-1855)
Beliau dianggap sebagai pendiri aliran eksistensialisme. Tulisannya menjadi dorongan bagi anggota-anggota gerakan tersebut. Beliau susah dimengerti. Beliau tak pernah ingin menjadi pemikir yang sistematik, dan suka kepada pertentangan arti (paradox). Tulisannya pun susah difahami karena menggunakan komunikasi yang tidak langsung, sindiran, dan nama samara (pseudonym). Bagi Kierkegaard persoalan pokok dalam hidup adalah : apakah artinya menjadi seorang Kristen? Ia tidak memperhatikan “wujud” secara umum, akan tetapi memperhatikan eksistensi orang seorang. Ada dua musuh bagi agama Kristen. Yang pertama : filsafat hegel(pemikiran abstrak, baik dalam bentuk filsafat Descartes atau filsafat hegel, akan menghilangkan personalitas manusia dan membawa kita kepada kefakiran tentang arti kehidupan. Dan yang kedua adalah adat kebiasaan khususnya adat kebiasaan para pengunjung gereja.
b.      Jena Paul Sartre(1905-1981)
Beliau lahir tanggal 21 Juni 1905 di Paris. Ia berasal dari keluarga cendekiawan. Ayahnya seorang perwira besar angkatan laut di Perancis dan ibunya adalah anak seorang guru besar yang mengajar bahasa modern di Universitas Sorbone. Pada tahun 1931 ia mengajar sebagai guru filsafat di Laon dan Paris. Pada periode ini ia bertemu dengan Hussel. Semenjak itu ia mendalami fenomenologi dalam menggunakan filsafat eksistensialismenya. Ia menjadi mashur melalui karya-karya novel dan tulisan dramanya. Dalam bidang filsafat, karyanya yang sangat terkenal adalah being and nitthingness, yang membicarakan tentang alam dan bentuk eksistensinya.pokok ajarannya yaitu tentang manusia (manusia itu memiliki kemerdekaan untuk membentuk dirinya dengan kemauan dan tindakannya). Kebebasan (manusia sebagai kebebasan. Manusia itu eksistensi mendahului esensi, maksudnya setelah manusia mati baru dapat diuraikan ciri-ciri seseorang).
c.       Friedrich Nietzsche (1844-1900)
Sumbangan Nietzsche adalah menghadapkan manusia kepada akibat-akibat kehidupan di dunia di mana tak ada nilai dan tujuan yang tetap. Beliau adalah salah satu dari orang-orang yang melihat bahaya dalam abad teknik dan industry yang telah tidak mengindahkan tuntunan nilai-nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan.
d.      Karl Jaspers (1883-1969)
Baginya filsafat adalah penunjuk jalan bagi kehidupan yang masuk akal dan pantas. Perhatian jaspers adalah soal “wujud” .manusia itu selalu lebih daripada apa yang ia merasa mengetahuinya. Dalam menyelidiki arti atau arah alam, kita dapat memilih suatu pilihan yang ekstrim dengan hanya menekankan kepada sains obyektif, kita dapat memilih pendekatan yang sebaliknya dengan menekankan kepada subyek atau jiwa dan menerima beberapa bentuk idealism.
e.       Gabriel Marcel (1889-1973)
Seorang eksistensialis Perancis, beragama Roma Katolik, yang memusatkan kepada persoalan wujud. Tema yang sesuai bagi filsafat adalah kedudukan yang sulit. Gabriel berpendapat filsafat adalah usaha pencarian yang didorong oleh rasa luar biasa tentang kebutuhan dalam yang mendesak dan rasa yang dalam tentang keresahan batin. Ada dua pemikiran marcel. Yang pertama : perbedaan antara pemikiran orang di jalan dan juga orang-orang ahli teknik atau sains. Cara berfikir tersebut memisahkan antara subyek dan obyek untuk penyelidikan ilmiah. Dan yang kedua : perbedaan antara mempunyai dan ada. Mempunyai arti hubungan antara aku dan benda di luar diriku, benda yang tidak bersandar kepadaku. Sedang kata mempunyai hanya dapat menunjukkan pemilikan. 

IV.             KESIMPULAN
·         Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Kata materialism terdiri dari kata materi dan isme. Materi dapat difahami sebagai bahan benda segala sesuatu yang tampak. Materialism adalah pandangan hidup yang mencari dasar segala sesuatu yang termasuk kehidupan manusia di dalam alam indra. Sementara itu, orang-orang yang hidupnya berorientasi kepada materi disebut sebagai materialism.
·         Tokoh-tokoh dalam aliran materialisme :
-          Karl Max
-          Thomas Hobbes
-          Hornby
-          Ludwig buechner, dkk.
·         Aliran materialisme :
-          Materialisme Mekanik
-          Materialisme metafisik
-          materialisme dialektis
·         eksistensialisme adalah salah satu aliran filsafat tentang keberadaan manusia itu di dunia yang dihadirkan melalui kebebasan manusia yang bertanggung jawab terhadap kemauan individu yang bebas tanpa memikirkan mana yang benar dan mana yang salah secara mendalam.
·         Tokoh aliran eksistensialisme :
-          Soren Kierkegaard
-          Jena Paul Sartre
-          Friedrich Nietzsche
-          Karl Jaspers
-          Gabriel Marcel

V.                PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis buat. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, Oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan selanjutnya. Dan akhirnya penulis meminta maaf apabila terdapat banyak kesalahan, baik dalam sistematika penulisan, isi dari pembahasan maupun dalam hal penyampaian materi. Dan semoga makalah ini dapat memberikan makalah khususnya untuk penulis dan umumnya untuk para pembaca dalam kehidupan ini. amin



DAFTAR PUSTAKA
Bertens,K.Ringkasan Sejarah Filsafat.Yogyakarta
Harold, dkk. Persoalan-persoalan filsafat. Jakarta : PT Bulan Bintang. 1984.
Louis o. kattsoff. Pengantar filsafat. Yogyakarta : tiara wacana yogya. 1992
Poedjawijatna. Pembimbing kearah alam filsafat. Jakarta : PT RINEKA CIPTA. 1994.
Tafsir, Ahmad.Filsafat Umum.Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.1990


[1] Poedjawijatna. Pembimbing kearah alam filsafat. Jakarta : PT RINEKA CIPTA. 1994. Hal. 2
[3] Bertens. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta. Hal. 76
[4] Louis o. kattsoff. Pengantar filsafat. Yogyakarta : tiara wacana yogya. 1992. hal. 220
[5] Opcit. Poedjawijatna. Hal. 125
[7] Opcit. Poedjawijatna. Hal. 124
[8] Harold, dkk. Persoalan-persoalan filsafat. Jakarta : PT Bulan Bintang. 1984. Hal. 300-304
[9] Tafsir, Ahmad.Filsafat Umum.Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.1990hal. 76